|
Maman S. Tegeg, (Jakarta: Gema Patriot, 2002), xi + 127
KEMERDEKAAN I
Kemerdekaan untuk merdeka Kemerdekaan berarti mengakhiri untuk selama-lamanya penghisapan bangsa oleh bangsa Penghisapan-penghisapan yang tak langsung Maupun penghisapan yang langsung -oo0oo-
KEMERDEKAAN II
Kemerdekaan Kemerdekaan yang nyata berarti KEBEBASAN untuk merdeka ini berarti : kebebasan untuk menentukan politik nasional kita sendiri untuk merumuskan konsepsi-konsepsi nasional kita sendiri tanpa dirintangi atau tanpa dihalangi oleh tekanan-tekanan atau campur tangan di luar Suatu kebebasan untuk menyelenggarakan urusan-urusan politik, ekonomi dan sosial kita sejalan dengan konsepsi-konsepsi nasional kita sendiri -oo0oo-
KEMERDEKAAN III
Jikalau kita membaca seorang pemimpin Irlandia lain Erskin Chiders berkata: “Kemerdekaa bukan soal tawar-menawar Kemerdekaan sebagai maut, dia ada atau tidak ada kalau orang menguranginya maka itu bukan lemerdekaan lagi” -oo0oo-
JEMBATAN EMAS
Kemerdekan adalah jembatan emas Di seberang jembatan Jembatan emas inilah kita leluasa menyusun masyarakat Indonesia Merdeka yang gagah kuat sehat, kekal dan abadi -oo0oo-
SEMBOYAN INDONESIA MERDEKA
Semboyan Indonesia merdeka bukan sekarang kita siarkan ? berpuluh-puluh tahun yang lalu kita telah menyiarkan semboyan Indonesia Merdeka bahkan sejak tahun 1932 dengan nyata-nyata kita mempunyai semboyan INDONESIA MERDEKA SEKARANG Bahkan 3 kali sekarang, yaitu Indonesia Merdeka sekarang, sekarang sekarang -oo0oo-
KEMERDEKAAN SAYA BANDINGKAN DENGAN PERKAWINAN
Kemerdekaan saya bandingkan dengan perkawinan ada yang berani kawin, lekas berani kawin ada yang takut kawin. Ada yang berkata : Ah, saya belum berani kawin tunggu dulu gaji F 500 Kalau saya sudah mempunyai rumah gedung sudah ada permadani sudah ada lampu listrik, sudah mempunyai tempat tidur yang mentul-mentul, sudah mempunyai sendok-garpu perak satu kaset, sudah mempunyai ini dan itu, bahkan sudah mempunyai kinder-uitzet barulah saya berani kawin Ada orang lain yang berkata : Saya sudah berani kawin kalau saya sudah mempunyai satu meja kursi empat, “meja makan” lantas satu zitje, lantas satu tempat tidur Ada yang lebih berani dari itu yaitu saudara-saudara Marhaen ! Kalau dia sudah mempunyai gubuk saja dengan satu tikar dengan satu periuk dia kawin Marhaen dengan satu tikar, satu gubuk : kawin Lantas satu zitje, lantas satu tempat tidur : kawin Sang nDara yang mempunyai rumah gedung Electrische kookplaat, tempat tidur, uang bertimbun-timbun kawin Belum tentu mana yang lebih gelukkig belum tentu mana yang lebih bahagia San nDara dengan tempat tidurnya yang mentul-mentul atau Sarinem dengan Samiun yang mempunyai satu tikar satu periuk, saudara-saudara ! Tekad hatinya yang perlu tekad hatinya Samiun kawin dengan satu tiker dan satu periuk dan hati Sang nDara yang baru berani kawin kalau sudah mempunyai gerozilver satu kaset plus kinderuitzet – buta 3 tahun lamanya. -oo0oo-
PANCASILA
Saudara-saudara ! “Dasar-dasar Negara” telah saya usulkan lima bilangannya Inikah Panca Dharma ? Bukan ! Nama Panca Dharma tidak tepat di sini Dharma berarti kewajiban sedang kita membicarakan dasar Saya senang kepada simbolik Simbolik angka pula Rukun Islam lima jumlahnya Jari kita lima setangan Kita punya Panca Indra Apa lagi yang lima bilangannya (Seorang yang hadir : Pendawa Lima) Pendawa pun lima orangnya sekarang banyak prinsip : kebangsaan, Internasionalisme, Mufakat, Kesejahteraan dan Ketuhanan lima pula bilangannya Namanya bukan Panca Dharma tetapi – saya nemakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa – namanya ialah Pancasila Sila artinya asa atau dasar dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi (tepuk tangan riuh) -oo0oo-
AKU MELIHAT INDONESIA
Jikalau aku berdiri di Pantai Ngeliyep Aku mendengar Lautan Hindia bergelora membanting di pantai Ngeliyep itu Aku mendengar lagu, sajak Indonesia Jikalau aku melihat sawah-sawah yang menguning-menghijau Aku tidak melihat lagi batang-batang padi yang menguning menghijau Aku melihat Indonesia Jikalau aku melihat gunung-gunung Gunung merapi, Gunung Semeru, Gunung Merbabu Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Kelebet dan gunung-gunung yang lain Aku melihat Indonesia Jikalau aku mendengarkan Lagu-lagu yang merdu dari batak bukan lagi lagu Batak yang ku dengarkan Aku mendengar Indonesia Jikalau aku mendengarkan lagu Pangkur Palaran bukan lagi Pangkur Palaran yang ku dengarkan Aku mendengar Indonesia Jikalau aku mendengarkan lagu Olesio dari Maluku bukan lagi aku mendengarkan lagu Olesio Aku mendengar Indonesia Jikalau aku mendengar burung Prerkutut menyanyi di pohon ditiup angin yang sepoi-sepoi bukan lagi aku mendengarkan burung perkutut Aku mendengarkan Indonesia Jikalau aku menghirup udara ini Aku tidak lagi menghirup udara Aku menghirup Indonesia Jikalau aku melihat wajah anak-anak di desa-desa dengan mata yang bersinar-sinar “Pak Merdeka; Pak Merdeka; Pak Merdeka!” Aku bukan lagi melihat mata manusia Aku melihat Indonesia -oo0oo-
|